Samara, Melihatmu Inginku Menikmati Keindahanmu

Photo by bien.hu
💗 💕 💖 💓 😂
Jum'at, 18 Rabiul Akhir 1439 H - Hiburan dari Pemilik Kehidupan hari ini sungguh membuatku tersenyum malu-malu mau. Hahaha... Bagaimana tidak, hari ini mulai dari jam 1 pagi, dimulai dari berisiknya teman-teman tak kasat mata yang membuatku sampai harus memberikan isyarat kepada mereka untuk diam karena mata ini masih asik membaca. Bersyukur bisa terlelap beberapa jam semalam, meski pagi disambut dengan keusilan kawan. Hemmm, rasa lelah memikirkan apapun yang terlewat membuatku tak ingin meninggalkan sarung selimut ini, tapi hari ini hari penuh janji, seperti biasa sebelum memulai hari jiwa ini meminta semangat pagi dariNya.


Memulai pagi dengan secangkir sahabat memberikan energy tersendiri kepada jiwaku. Melihat beberapa draft tulisan yang belum sempat diriku review untuk dipublish, terbesit sesuatu di pikiranku ketika melihat sang waktu. What?!!! aku lupa menyapa dia!!!

Wanita yang ingin kujadikan partner dalam kehidupanku, wanita yang bisa membuat jiwa ini memiliki keinginan untuk berikhtiar meminangnya. Hahaha... Wait, dia bukan pacar, tapi calon emaknya anak-anak. (semoga engkau diberikan kasih sayangNya hari ini) -- Lebay sih, tapi itulah rasa yang mendayu mesra.

Secepat kilat kusambar smartphone, password pun dilewati jemariku secepat sekretaris yang dikejar deadline. Kubuka aplikasi chat favorit, dan jiwa ini tersenyum melihat sapaan pagi dari bidadariNya. Keegoisan diriku menuntutku untuk selalu menjadi yang pertama menyapa dia di pagi hari, atau sekedar menulis "Semangat ya buat hari ini 😊".
Do your best!
Prove you're the best for her!
Believe, Rabb open her heart for one reason!!
Rabb trust to you to make her happy in life till jannah!!
Remember that!!!
Arrghhh, lelaki macam apa diriku yang telat memberikan sapaan pagi untuk makhluk yang diriku diberikan rasa sayang dariNya. Tapi rasa dalam hati bergumam "Terima Kasih Gusti sudah memperkenalkanku dengan salah satu bidadariMu". Jiwa ini selalu berharap lewat curhatan malam "Semoga dimudahkan jalan kita untuk mendapatkan keredhaanNya". Nah kan, jadi baper... 😂

Semangat!!! 😄
Singkat cerita jiwa ini membalas sapaan warna pagi itu, cerah hari harapanku kali ini. Tak lupa diriku minta maaf karena merasa bersalah telat menyapa pagi ini, meskipun dia tidak merasa diriku bersalah. Setelah itu rutinitas pun berlanjut, dia jauh di sana dengan segala kesibukannya dan aku di sini memulai hari dengan penuh semangat sampai lupa mandi. Hahaha... Ssssssttt, udah jangan bilang yang lain. 😂😂

Rutinitas membosankan tapi asik kulalui sampai panggilan laporan mingguan dariNya menyeruak masuk ke telingaku. Guyuran saudara tirta pun memberikan semangat kedua kalinya hari ini. Alhamdulillah akhirnya bisa mandi juga. Hehehe... jangan dikira ragaku ga suka mandi, kadang kalau bercanda dengan saudara tirta ragaku bisa berendam atau sekedar bermain air sangat lama. Hanya saja diriku sering lupa kalau ragaku sudah mandi atau belum. 😂 #ngeles yang ga penting

Proses laporan mingguan kali ini kurasakan ada sesuatu yang berbeda. Sebelum dan sesudah ritual kenikmatan hati, mata ini tertuju dengan object yang sama. Pasutri yang dari awal dan akhir saling berkomunikasi serta berinteraksi dengan penuh senyum kemesraan. Serasa dejavu dimana jiwaku melihat peristiwa ini? Memoryku mencoba menggali ketika langkahku berhenti sejenak sebelum aku tunggangi kuda besi. Hanya senyuman yang muncul dariku, menengadah serta bergumam : "Terima kasih ya Rabb, atas semua pelajaranMu".
Alhamdulillah
Ya memoryku berbicara tentang kehidupanku menuntut ilmu di kota Malang, Jawa Timur. Teringat Ibu dan Bapak angkatku. Mereka berdua selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara yang unik. Lebih dari setahun hidup bersama mereka, jiwa ini banyak mendapat pelajaran yang sangat berharga. Terakhir kali aku mengunjungi mereka pertengahan tahun kemarin pun masih sama pola interaksi mereka berdua.

Ketika awal mengenal mereka mungkin usia pernikahan mereka dibawah 20 tahun, Sekarang mungkin lebih dari 30 tahun usia pernikahan mereka dan mereka bisa menikmati pola komunikasi yang sangat menarik dalam kurun waktu lama. Pola komunikasi yang bisa disebut SAMARA. Ngobrol, cekcok, laporan bersama, bertetangga, mendidik anak, dll. Mereka berdua menerapkan pola yang asik. Ketika mengingat itu semua bibirku tersenyum karena hati merasakan kenyamanan berinteraksi dengan mereka. Semuanya menarik bagiku. Sungguh membuatku ingin segera mempraktekkan pola komunikasi yang unik itu.

Semoga...Amiiin....
Ketika jiwa ini belajar dari setiap memory yang masuk ke dalam alam bawah sadarku, tepi bibirku selalu terangkat sendiri. Ya, kadang makhluk fana di sekitarku bercanda "dasar kurang waras, suka senyum sendiri". Hahaha... Terserah, jiwa ini menikmati rasa itu, jiwa ini menikmati semua memory pembelajaran dariNya. Rasa bahagia belajar dari setiap memory, rasa bahagia yang ingin segera kunikmati bersama bidadariNya, rasa bahagia yang ingin kurasakan bersama partner dalam kehidupanku.

Sepanjang perjalanan pulang dari rumahNya, diriku tersenyum secara raga, jiwa ini bersyukur atas semua pelajaran hidup, hati ini berharap semua pembelajaran dariNya bisa membahagiakan bidadariNya yang dipercayakan kepadaku kelak. Amiiin...

Ada sedikit tambahan dari saudara seperjuangan tentang konsep samara, saya mengenal dia dengan nama gus ries, kurang lebih seperti ini pendapat dia :

"Samara berasal dari tiga kata sakinah, mawaddah, dan rahmah. Dari tiga kata itu dipakai 3 sifat sejajar atau hierarki berurutan, perbedaan dalam memakai sifat kata akan menghasilkan makna yang berbeda-beda."

"Pribadiku lebih cocok konsep samara dengan sifat hierarki, ada input dan output yang dicapai."

"Mawaddah adalah rasa diantara dua manusia yang ingin menyatu, ingin bersama. Kalian (aku ma calon,red) mungkin sudah merasakan itu sekarang."

"Rahmah seakar kata dengan Rahman, yaitu Rahman Alloh, dan itu sedang berlangsung sekarang pada hati kalian."

"Cuma untuk sakinah itu menjadi output untuk diperjuangkan, misal single itu sakinahnya ya udah dapat calon lah, paling tidak mendapat ketenangannya cukup sendiri. Tapi untuk pasangan, sakinah nya ya diantara mereka (pasangan itu) saling mengerti dan memahami."

Seperti itu pendapat salah satu saudara seperjuangan, jiwa ini memiliki konsep sendiri tentang samara, hampir sama dengan konsep saudaraku di atas, hanya mungkin beda output. Ketika jemariku menulis kisah orang tua angkatku di atas adalah bentuk output dari ketiga kata sakinah, mawaddah, dan rahmah. Mata dan hati ini merasakan ketenangan saat hidup bersama mereka. Melihat cara mereka berumah tangga dan menyikapi sebuah persoalan itulah yang menjadi ilmu baru untuk diri ini.

Pun selama ini, satu persatu pengalaman dalam aliran kehidupan yang diperlihatkanNya untuk jiwa ini selalu menarik. Belajar dari pola kehidupan orang lain menjadi hal yang menggelitik, cukup mengamati dan tidak ikut campur. Sekedar bercerita untuk menggali sudut pandang masing-masing individu.

Pun dalam surat cintaNya banyak penjelasan yang lebih detail, mempelajari 114 surat cintaNya mungkin butuh waktu lama. Tapi selalu menarik di setiap kata yang tertulis. Apapun pendapat dari setiap manusia yang masih belajar adalah boleh. Salah dan benar dalam penerapan itu nanti, pasti ada hukum sebab akibat yang akan mengarahkan semua itu. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Instagram