Sebuah Story : Adhem Ayem

Klaten - Laporan minggu ini pada-Nya telah tersampaikan, keluar dari rumah-Nya mendapat sambutan saudara Surya dengan senyum kecutnya. Terik kali hari ini, langkah malas kaki ini seperti motor yang mau kehabisan bahan bakar. Huft, pening rasanya hari ini, melihat database yang begitu menyebalkan dan harus segera dibenahi, rasa malas sudah menggerogotiku sejak selesai dhuha tadi.

Laju kuda besi kupacu pelan sembari menikmati belaian saudara Bayu, mencoba melewati daerah asing yang bernama kauman, kanan kiri tak menentu arah. Akhirnya sampai juga di jalanan yang aku kenal, toleh kanan kiri seperti wayang tanpa dalang. Panas terik Surya membuat pikiran ini teringat sebuah tempat kecil yang bernama Adhem Ayem, tempat dimana sedikit memory tergali saat pertama datang bersama Leader of Pandes.



Setiba di lokasi, langsung kusapa penjual usia senja es adhem ayem. Keakraban kami mulai dari pertama sampai sekarang semakin luwes. Sambil menunggu semangkok es kombinasi favorit, kucoba menikmati tahu goreng dengan cabe segar seperti biasanya. Warung sederhana ini mengingatkanku akan memory masa kecil tatkala masih sekolah dasar, hampir mirip interior warung seperti warung mbah rantam (penjual es di daerahku dulu).

Sembari melayani pembeli lain, pakdhe sesekali berkisah tentang banyak hal, kadang aku tersenyum, mengernyitkan dahi, atau tertawa kecil saat beliau bercerita, rasanya seperti mendapatkan dongeng dari seorang kakek. Warung kecil ini sering aku singgahi untuk melepas penat. Interior retro dan radio klasik yang mendendangkan alunan gendhing jawa membuat hati merasa nyaman. Tenang...

Setelah mengantri beberapa saat, datanglah semangkok pelega dahaga, tak sabar kerongkonganku menikmati semangkok kombinasi rasa yang dibuat oleh tangan berpengalaman.

Sesaat kemudian datang seorang debt collector yang biasa menarik jatah. Hemmm... Tak lama, orang itu pergi dan pakdhe sambil berlalu lalang bercerita kalau ga semua orang yang memesan untuk katering itu membayar.

Sedih rasanya, ketika seorang ramah ini begitu teraniaya oleh orang yang kurang bertanggung jawab. Meskipun begitu, pakdhe tak pernah sekalipun meminta pembayaran dari munafikun itu. Beliau berusaha mencari modal lagi dari debt colector yg sering mampir ke tempat ini. Banyak hal aku belajar tentang keihklasan dan perjuangan dalam hidup dari pakdhe.

Menikmati segarnya es adhem ayem ini membuatku bersemangat lagi, mendapatkan wejangan dan pitutur dari pakdhe semakin membuatku semangat untuk menyelesaikan tujuanku di negeri Pandes. Belajar dari kehidupan orang lain lagi hari ini - Jum'at, 5 Rajab 1439. Terima kasih pakdhe, semoga es adhem ayem selalu laris. (din/hanarasa)

#cerita dalam perjalanan mencari makna "ikhlas di dalam ikhlas"

Instagram